Senin, 03 September 2012

KUALITAS UDARA DALAM RUANGAN

Indonesia menghadapi pembangunan fisik yang sangat pesat, untuk memenuhi kebutuhan perkantoran dan perumahan di kota besar seperti Jakarta bangunan gedung bertingkat tinggi menjadi pilihan. Perkembangan dan tren desain arsitektur memang sedang mengarah pada arsitektur bangunan dengan dinding dan jendela yang terbuat dari kaca. Untuk menjaga suhu udara ruangan tetap dingin maka digunakan pendingin ruangan.
Tidak adanya ventilasi tidak mengurangi kenyamanan para pekerja di dalam gedung. Sangat nyaman sehingga tidak banyak yang menyadari bahwa sumber polusi justru berasal dari ruangan kerja itu sendiri.
Perwujudan kualitas lingkungan yang sehat merupakan bagian pokok di bidang kesehatan. Udara sebagai komponen lingkungan yang penting dalam kehidupan perlu dipelihara dan ditingkatkan kualitasnya sehingga dapat memberikan daya dukungan bagi mahluk hidup untuk hidup secara optimal.

Udara dapat dikelompokkan menjadi: udara luar ruangan (outdoor air) dan udara dalam ruangan (indoor air). Kualitas udara dalam ruang sangat mempengaruhi kesehatan manusia, karena hampir 90% hidup manusia berada dalam ruangan 2. Sebanyak 400 sampai 500 juta orang khususnya di negara yang sedang berkembang sedang berhadapan dengan masalah polusi udara dalam ruangan. Di Amerika, isu polusi udara dalam ruang ini mencuat ketika EPA pada tahun 1989 mengumumkan studi polusi udara dalam ruangan lebih berat daripada di luar ruangan. Polusi jenis ini bahkan bisa menurunkan produktivitas kerja hingga senilai US $10 milyar.

Udara sebagai salah satu komponen lingkungan merupakan kebutuhan yang paling utama untuk mempertahankan kehidupan. Metabolisme dalam tubuh makhluk hidup tidak mungkin dapat berlangsung tanpa oksigen yang berasal dari udara. Selain oksigen terdapat zat-zat lain yang terkandung di udara, yaitu karbon monoksida, karbon dioksida, formaldehid, jamur, virus, dan sebagainya. Zat-zat tersebut jika masih berada dalam batas-batas tertentu masih dapat dinetralisir, tetapi jika sudah  melampaui ambang batas maka proses netralisir akan terganggu. Peningkatan konsentrasi zat-zat di dalam udara tersebut dapat disebabkan oleh aktivitas manusia.

Mengingat bahayanya pencemaran udara dalam ruangan terhadap kesehatan sebagaimana kasus-kasus tersebut diatas, maka dipandang perlu untuk mengetahui berbagai dampak dan penatalaksanaan berbagai pencemaran kualitas dalam udara ruangan. Dari makalah ini diharapkan dapat meminimalkan dampak terhadap kesehatan.

Pertumbuhan pembangunan seperti industri, transportasi, dan lain-lain disamping memberikan dampak positif namun disisi lain akan memberikan dampak negatif dimana salah satunya berupa pencemaran udara dan kebisingan baik yang terjadi didalam ruangan (indoor) maupun di luar ruangan (outdoor) yang dapat membahayakan kesehatan manusia dan terjadinya penularan penyakit.

Selain kualitas udara ambien, kualitas udara dalam ruangan (indoor air quality) juga merupakan masalah yang perlu mendapat perhatian karena akan berpengaruh terhadap kesehatan manusia. Timbulnya kualitas udara dalam ruangan umumnya disebabkan oleh beberapa hal, yaitu kurangnya ventilasi udara (52%) adanya sumber kontaminasi di dalam ruangan (16%) kontaminasi dari luar ruangan (10%), mikroba (5%), bahan material bangunan (4%) ,lain-lain (13%). Sumber pencemaran udara dapat pula berasal dari aktifitas rumah tangga dari dapur yang berupa asap, Menurut beberapa penelitian pencemaran udara yang bersumber dari dapur telah memberikan kontribusi yang besar terhadap penyakit ISPA.

Sumber penyebab polusi udara dalam ruangan antara lain yang berhubungan dengan bangunan itu sendiri, perlengkapan dalam bangunan (karpet, AC, dan sebagainya), kondisi bangunan, suhu, kelembaban, pertukaran udara, dan hal-hal yang berhubungan dengan perilaku orang-orang yang berada di dalam ruangan, misalnya merokok.  Sumber polusi udara dalam ruang dapat berasal dari bahan-bahan sintetis dan beberapa bahan alamiah yang digunakan untuk karpet, busa, pelapis dinding, dan perabotan rumah tangga (asbestos, formaldehid, VOC), juga dapat berasal dari produk konsumsi (pengkilap perabot, perekat, kosmetik, pestisida/insektisida).

Mikroorganisme yang berasal dari dalam ruangan misalnya serangga, bakteri, kutu binatang peliharaan, jamur. Mikroorganisme yang tersebar di dalam ruangan dikenal dengan istilah bioaerosol. Bioaerosol di dalam ruangan dapat berasal dari lingkungan luar dan kontaminasi dari dalam ruangan. Dari lingkungan luar dapat berupa jamur yang berasal dari organisme yang membusuk, tumbuh-tumbuhan yang mati dan bangkai binatang, bakteri Legionella yang berasal dari soil-borne yang menembus ke dalam ruang, alga yang tumbuh dekat kolam/danau masuk ke dalam ruangan melalui hembusan angin dan jentik-jentik serangga di luar ruang dapat menembus bangunan tertutup. Kontaminasi yang berasal dari dalam ruang yaitu  kelembaban antara 25-75%. Spora jamur akan meningkat dan terjadi kemungkinan peningkatan pertumbuhan jamur, dan sumber kelembaban adalah tandon air, bak air di kamar mandi.  Penyakit yang berhubungan dengan bioaerosol dapat berupa penyakit infeksi seperti  flu, hipersensitivitas: asma, alergi, dan juga  toxicoses yaitu toksin dalam udara di ruangan yang terkontaminasi sebagai penyebab gejala SBS (Sick Building Syndrome).  ‘Sick building syndrome’ adalah sindrom penyakit yang diakibatkan oleh kondisi gedung. SBS merupakan kumpulan gejala-gejala dari suatu penyakit. Definisi SBS , adalah gejala yang terjadi berdasarkan pengalaman para pemakai gedung selama mereka berada di dalam gedung tersebut. Gejala SBS antara lain: sakit kepala, kehilangan konsentrasi, tenggorokan kering, iritasi mata dan kulit. Beberapa bentuk penyakit yang berhubungan dengan SBS: iritasi mata dan hidung, kulit dan lapisan lendir yang kering, kelelahan mental, sakit kepala, ISPA, batuk, bersin-bersin, dan reaksi hipersensitivitas.
Sementara itu, The National Institute of Occupational Safety and Health (NIOSH) dalam penelitiannya menyebutkan ada lima sumber pencemaran di dalam ruangan yaitu:
a.       Pencemaran dari alat-alat di dalam gedung seperti asap rokok, pestisida, bahan-bahan pembersih ruangan.
b.      Pencemaran di luar gedung meliputi masuknya gas buangan kendaraan bermotor, gas dari cerobong asap atau dapur yang terletak di dekat gedung, dimana kesemuanya dapat terjadi akibat penempatan lokasi lubang udara yang tidak tepat.
c.       Pencemaran akibat bahan bangunan meliputi pencemaran formaldehid, lem, asbes, fibreglass dan bahan-bahan lain yang merupakan komponen pembentuk gedung tersebut.
d.      Pencemaran akibat mikroba dapat berupa bakteri, jamur, protozoa dan produk mikroba lainnya yang dapat ditemukan di saluran udara dan alat pendingin beserta seluruh sistemnya.
e.       Gangguan ventilasi udara berupa kurangnya udara segar yang masuk, serta buruknya distribusi udara dan kurangnya perawatan sistem ventilasi udara.

Kualitas udara di dalam ruangan mempengaruhi kenyamanan lingkungan ruang kerja. Kualitas udara yang buruk akan membawa dampak negatif terhadap pekerja/karyawan berupa keluhan gangguan kesehatan. Dampak pencemaran udara dalam ruangan terhadap tubuh terutama pada daerah tubuh atau organ tubuh yang kontak langsung dengan udara meliputi organ sebagai berikut:
a.       Iritasi selaput lendir: iritasi mata, mata pedih, mata merah, mata berair
b.      Iritasi tenggorokan, sakit menelan, gatal, batuk kering
c.       Gangguan neurotoksik: sakit kepala, lemah/capai, mudah tersinggung, sulit berkonsentrasi
d.      Gangguan paru dan pernafasan: batuk, nafas berbunyi/mengi, sesak nafas, rasa berat di dada
e.       Gangguan kulit: kulit kering, kulit gatal
f.       Gangguan saluran cerna: diare
g.      Lain-lain: gangguan perilaku, gangguan saluran kencing, sulit belajar

Keluhan tersebut biasanya tidak terlalu parah dan tidak menimbulkan kecacatan tetap, tetapi jelas terasa amat mengganggu, tidak menyenangkan dan bahkan mengakibatkan menurunnya produktivitas kerja para pekerja.



Kualitas Fisik Udara 
Suhu  udara  sangat  berperan  dalam  kenyamanan  bekerja karena  tubuh  manusia  menghasilkan  panas  yang  digunakan  untuk metabolisme  basal  dan  muskuler.  Namun  dari  semua  energi  yang dihasilkan  tubuh  hanya  20  %  saja  yang  dipergunakan  dan  sisanya akan dibuang ke lingkungan. Jika dibandingkan dengan Standar Baku Mutu   sesuai   Kepmenkes  No.  261   bahwa   suhu   yang dianggap  nyaman  untuk  suasana  bekerja  18   -  26  ˚C  maka  suhu ruangan pada lantai I dan lantai II masih berada pada standar. Suhu udara  ruang  kerja  yang  terlalu  dingin  dapat  menimbulkan  gangguan kerja  bagi  karyawan,  salah  satunya  gangguan  konsentrasi  dimana pegawai  tidak  dapat  bekerja  dengan  tenang  karena  berusaha  untuk menghilangkan rasa dingin tersebut.

Kelembaban udara yang relatif rendah yaitu kurang dari 20 % dapat menyebabkan kekeringan selaput lendir membran, sedangkan kelembaban tinggi akan meningkatkan pertumbuhan mikroorganisme. Hasil pengukuran kelembaban relatif pada lantai I adalah 64  – 68,5 %.

Sedangkan pada lantai II adalah 73  – 80 %. Jika dibandingkan dengan Standar  Baku  Mutu  sesuai  Kep.  Men.  Kesehatan  No  261  dimana kelembaban  yang  ideal  berkisar  40 -60  %,  maka  hasil  pengukuran kelembaban pada 2 (dua) lantai tersebut berada di atas standar yang berarti potensial sebagai tempat pertumbuhan mikroorganisme.

Hasil   pengukuran   kecepatan   aliran   udara   pada   lantai  I berkisar antara    0,04  – 0,07 m/det sedangkan pada lantai II berkisar antara  0,15  -  0,35  m/det.  Menurut  Standard  Baku  Mutu  Kep.  Men. Kesehatan No 261 kecepatan aliran udara berkisar antara 0,15  – 0,25 m/det. Arismunandar dan Saito (1991) menyatakan bahwa kecepatan aliran udara < 0,1 m/det atau lebih rendah menjadikan ruangan tidak nyaman karena tidak ada pergerakan udara sebaliknya bila kecepatan udara terlalu tinggi akan menyebabkan  cold draft  atau kebisingan di dalam ruangan.


Kualitas Mikrobiologi Udara  
Bioaerosol adalah partikel debu yang terdiri atas makhluk hidup atau sisa yang berasal dari makhluk hidup. Makhluk hidup terutama adalah jamur   dan   bakteri.   Penyebaran   bakteri,   jamur,   dan   virus   pada umumnya  terjadi  melalui  sistem  ventilasi.  Sumber  bioaerosol  ada  2 yakni  yang  berasal  dari  luar  ruangan  dan  dari perkembangbiakan dalam   ruangan   atau   dari   manusia,   terutama   bila   kondisi   terlalu berdesakan  (crowded).  Pengaruh  kesehatan  yang  ditimbulkan  oleh bioaerosol  ini  terutama  3  macam,  yaitu  infeksi,  alergi,  dan  iritasi. Kontaminasi  bioaerosol  pada sumber air sistem  ventilasi ( humidifier) yang terdistribusi keseluruh ruangan dapat menyebabkan reaksi yang berbagai ragam seperti demam, pilek, sesak nafas dan nyeri otot dan tulang  (Tan  Malaka,  1998).  Total  koloni  kuman  pada  lantai  I  adalah 1675 CFU/m 3  udara sedangkan lantai II adalah 1387,5 CFU/m 3  udara. Jika dibandingkan dengan Standar Baku Mutu Kep.MenKesehatan RI No  :  261  /MENKES/SK/II/1998  dimana  angka  kuman  adalah  kurang dari   700   koloni/m 3 udara,  maka  kedua  ruangan   berada  di  atas standar. Hasil  pengukuran  total  koloni  bakteri  pada  lantai  I  (6,87 CFU/menit)  lebih  tinggi  dibandingkan  lantai  II  (3,21  CFU/menit)  dan sebagian besar berjenis gram negatif batang. Hasil pengukuran total koloni jamur  pada lantai II adalah 1,94 CFU/menit dan pada lantai II adalah 0,87 CFU/menit. Jika dibandingkan dengan standar NH&MRC dimana  total  koloni  jamur  adalah  150  CFU/m 3   udara,  maka  kedua ruangan  tersebut  masih  berada  di  bawah  standar.  Pada  usap  AC ditemukan  gram  positif  batang  dan  gram  negatif  batang.  Pencemar yang  bersifat  biologis  terdiri  atas  berbagai  jenis  mikroba  patogen, antara  lain  jamur,  metazoa,  bakteri,  maupun  virus.  Penyakit  yang disebabkannya   seringkali   diklasifikasikan   sebagai   penyakit   yang menyebar lewat udara (air-borne diseases) (Soemirat, 2002).

Pengaruh Kualitas Fisik Dan Kulitas Mikrobiologi Terhadap Kesehatan 
Hasil  perhitungan  dengan  menggunakan  uji  statistik  regresi logistik  terlihat  bahwa  ada  dua  variabel  yang  signifikan  terhadap terjadinya gangguan kesehatan, yaitu :
  1. Jamur   berpengaruh   terhadap   terjadinya   gangguan   kesehatan berupa iritasi hidung, artinya semakin banyak jumlah koloni jamur dalam  ruangan  mempunyai  resiko  16,463  kali  lebih  besar  untuk dapat terjadinya iritasi hidung.
  2. Kuman   berpengaruh   terhadap   terjadinya   gangguan   kesehatan berupa mual, artinya semakin banyak jumlah koloni kuman dalam ruangan  mempunyai  resiko  1,008  kali  lebih  besar  untuk  dapat terjadinya mual.
Variabel   lainnya   yang   tidak   signifikan,   belum   tentu   tidak memberikan  pengaruh  terhadap  gangguan  kesehatan  yang  timbul. Hal  ini  disebabkan  oleh  beberapa  faktor,  yaitu :  banyaknya  faktor yang   berpotensi   mempengaruhi   kualitas   udara   lingkungan   kerja, gangguan  kesehatan  yang  terjadi  tidak  bersifat  spesifik  dan  dapat merupakan   gejala-gejala   dari   penyakit   lain,   penyebab   terjadinya gangguan  kesehatan  tersebut  dipengaruhi  banyak  faktor  lain. Tan Malaka   (1998)   menyatakan   bahwa   intensitas   pengaruh   berbagai faktor  yang  dapat  mempengaruhi  lingkungan  kerja  tergantung  lokasi dan proses yang ada. linkungan kerja Walaupun tidak semua dominan, namun faktor – faktor tersebut selalu ada dalam.


10 komentar:

  1. Saatnya perusahaan dan indsutri - industri memberikan fasilitas untuk kenyamanan kerja para karyawan. Ruang kerja bersih dan sehat, karyawan akan sehat dan produktivitas mereka bertambah.Dan ini akan menguntungkan perusahaan.
    Pastikan anda mendapatkan informasi yang benar tentang kualitas tata udara. Kunjungi kami di http://www.tawadacleantech.com

    BalasHapus
  2. Persyaratan kesehatan lingkungan kerja juga diatur di Kepmenkes 1405/2002.

    BalasHapus
  3. “Remember Webvan?” they’d say. “Remember Kozmo?”In Silicon Valley, the spectacular flameouts of those dot-com-boom delivery services are deeply entrenched lore. And as a veteran of the Bay Area start-up community, Carmeli remembers them well. But they don’t scare her.And that’s because Carmeli believes this time — this michael kors outlet online sale moment, this era — is different.For one, the technology available for executing the complex logistical gymnastics of same-day service is vastly better. But Carmeli also thinks her predecessors — and some of her rivals — did not or will not conquer this business because they’ve been macy michael kors sale trying to solve the wrong problem. “The market opportunity for same-day delivery has very little to do with meeting the needs of people who want things fast,” Carmeli said.
    Over time, Li has become an internationalist. Ask him where he calls home and it takes a michael kors few minutes before he settles on London. He has leapt forward to where China’s fashion industry is heading.“The last few years is the fastest-growing period,” says Angelica Cheung, editor of Vogue China. “When I launched Vogue 10 years ago, we wanted to run a regular column michael kors outlets store devoted to Chinese designers. It was hard to find designers good enough to be presented alongside international brands. Now, there are too many.”Many of those designers — who number in the dozens — have studied abroad, as well as in China. They have offices in Paris michael kors factory outlet or London. They’re connected to social media, fluent in English and adept at self-promotion.Even with a recent slowdown in sales of high-priced attire and accessories,

    BalasHapus
  4. Kualitas udara baik indoor maupun outdoor sangatlah penting diperhatikan, agar tidak menimbulkan dampak yang lebih parah.

    BalasHapus
  5. Saya membutuhkankan aturan/panduan titik pengambilan sampel kualitas fisik udara, seperti kebisingan, pencahayaan, dan lainnya

    BalasHapus
  6. Pantesan tiap di kantor saya batuk-batuk, ventilasi di kantor saya (3 lantai) cuma ada di lantai 2, itupun tiap OB bersih-bersih jendelanya gak di buka

    BalasHapus
  7. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  8. Bagai mana kalau ruangan saya kasih oksigen dari tabung?? Apa kelebihan dan kekurangan nya?,mohon petujuk terimakasih......

    BalasHapus