Senin, 10 September 2012

Katarak Traumatika


Definisi
Katarak traumatik merupakan katarak yang muncul sebagai akibat cedera pada mata yang dapat merupakan trauma perforasi ataupun tumpul yang terlihat sesudah beberapa hari ataupun beberapa tahun.Katarak traumatik ini dapat muncul akut, subakut, atau pun gejala sisa dari trauma mata.10

Herpes Zoster Oftalmikus


Latar Belakang
Herpes zoster oftalmikus adalah infeksi virus herpes zoster yang menyerang bagian ganglion gasseri  yang menerima serabut saraf dari cabang oftalmikus saraf trigeminus (N.V) yang ditandai dengan erupsi herpetik unilateral pada kulit.1

Keratitis


Anatomi Kornea
Kornea adalah jaringan transparan avaskuler sebagai membran pelindung yang dilalui berkas cahaya menuju retina. Kornea dewasa rata-rata mempunyai tebal 0,54 mm di tengah, sekitar 0,65 mm di tepi dan diameternya sekitar 11 – 12 mm (horizontal) dan 10 – 11 mm (vertikal). Indeks refraksi kornea 1.376. Tetapi dalam mengkalibrasi keratometer untuk menghitung kombinasi kekuatan optik lengkung kornea anterior dan posterior digunakan indeks refraksi 1.3375. Kornea asferis, walaupun jari-jari lengkung kornea sering didapatkan sebagai cermin cembung sferosilindris membentuk tengah permukaan anterior kornea, yang disebut kornea gap.1

Toxoplasmosis Okular


Definisi
Toxoplasmosis okular adalah suatu infeksi parasit sistemik disebabkan oleh Toxoplasma gondii. Toksoplasmosis adalah penyebab korioretinitis paling umum pada manusia dan merupakan 28 % dari kasus uveitis posterior. 1

Kamis, 06 September 2012

DIABETES MELLITUS TIPE 2

Definisi
Menurut American Diabetes Association (ADA) 2005, diabetes melitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya.1 Sedangkan menurut WHO 1980 dikatakan bahwa diabetes melitus merupakan sesuatu yang tidak dapat dituangkan dalam satu jawaban yang jelas dan singkat tapi secara umum dapat dikatakan sebagai suatu kumpulan problema anatomik dan kimiawi yang merupakan akibat dari sejumlah faktor di mana didapat defisiensi insulin absolut atau relatif dan gangguan fungsi insulin.

Senin, 03 September 2012

SICK BUILDING SYNDROME (SBS)

Sick Building Syndrome (SBS) merupakan gangguan kesehatan yang dialamioleh seseorang di dalam suatu gedung atau bangunan. Menurut website Indoor Air Quality, SBS bisa diartikan sebagai situasi di mana muncul gejala-gejala penyakit yangberhubungan dengan kondisi di dalam ruangan kantor, di mana gejala penyakit itu tidak bisa diidentifikasikan secara jelas dan bergantung pada lama waktu yang dihabiskan didalam kantor.

PARAMETER PENCEMAR UDARA

1. Karbon Monoksida
Sifat Fisika Dan Kimia
Karbon dan Oksigen dapat bergabung membentuk senyawa karbon monoksida (CO) sebagai hasil pembakaran yang tidak sempurna dan karbon dioksida (CO2) sebagai hasil pembakaran sempurna. Karbon monoksida merupakan senyawa yang tidak berbau, tidak berasa dan pada suhu udara normal berbentuk gas yang tidak berwarna. Tidak seperti senyawa CO mempunyai potensi bersifat racun yang berbahaya karena mampu membentuk ikatan yang kuat dengan pigmen darah yaitu haemoglobin.

KUALITAS UDARA DALAM RUANGAN

Indonesia menghadapi pembangunan fisik yang sangat pesat, untuk memenuhi kebutuhan perkantoran dan perumahan di kota besar seperti Jakarta bangunan gedung bertingkat tinggi menjadi pilihan. Perkembangan dan tren desain arsitektur memang sedang mengarah pada arsitektur bangunan dengan dinding dan jendela yang terbuat dari kaca. Untuk menjaga suhu udara ruangan tetap dingin maka digunakan pendingin ruangan.

Sabtu, 07 Mei 2011

RESEP

Definisi
Resep menurut SK. Mes. Kes. No. 922/Men.Kes/ l.h adalah permintaan tertulis dari dokter, dokter gigi, atau dokter hewan kepada Apoteker Pengelola Apotek (APA) untuk menyediakan dan menyerahkan obat bagi penderita sesuai peraturan perundangan yang berlaku.

Resep dalam arti yang sempit ialah suatu permintaan tertulis dari dokter, dokter gigi, atau dokter hewan kepada apoteker untuk membuatkan obat dalam bentuk tertentu dan menyerahkannya kepada penderita.dokter gigi, atau dokter hewan kepada apoteker untuk membuatkan obat dalam bentuk tertentu dan menyerahkannya kepada penderita.

Senin, 28 Maret 2011

PERAN TONSILEKTOMI PADA SINDROM PFAPA

PERAN TONSILEKTOMI PADA SINDROM PFAPA
 Kevin K. Wong, MD; Jane C. Finlay, MD, FRCPC; J. Paul Moxham, MD, FRCSC

Berikut ini adalah terjemahan salah satu jurnal kedokteran dari Arch Otolaryngol Head Neck Surg. 2008;134(1):16-19.

Sasaran: Untuk menguji efikasi (kemanjuran) tonsilektomi dalam memperbaiki gejala-gejala dan mencegah episode kambuhnya pada anak-anak dengan sindrom PFAPA (periodic fever, aphthous stomatitis, pharyngitis, and adenitis).

Kamis, 09 September 2010

Kejang Demam Sederhana dan Kompleks


KEJANG DEMAM SEDERHANA
Dasar diagnosa :
Kejang demam dengan frekuensi kejang tidak lebih dari 1 kali dalam 24 jam, kejang bersifat umum, lama kejang <15 menit dan tidak ada kelainan neurologis sebelum dan sesudah kejang.
Pengobatan dan tindak lanjut :
-          semua penderita yang datang dalam keadaan kejang diatasi dengan diazepam
-          pemberian antipiretik dan terapi kausal sesuai penyebab panas
-  suhu rektal ³ 39,50C
-  kejang berulang             
-   bila suhu rektal <39,50C, penderita dipulangkan dengan  dibekali obat antipiretik dan antikonvulsan diazepam oral/rektal pengobatan intermiten
-          nasehat : bila kejang lagi, kembali ke rumah sakit

Kejang Demam


Batasan :
Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rectal diatas 380C), yang  disebabkan oleh suatu proses ekstrakranial.


Penatalaksanaan Kejang


Tujuan pengelolaan kejang :
1.    Menjamin oksigenasi jaringan otak, serta fungsi jantung dan paru.
2.    Mengatasi kejang secepat mungkin dan mencegah berulangnya kejang.
3.    Memperbaiki gangguan metabolisme dan keseimbangan air dan elektrolit.
4.    Mencegah komplikasi sistemik.
5.    Mengenal dan mengobati penyebab naiknya suhu.

Untuk mencapai tujuan tersebut di atas maka langkah pertolongan yang dilakukan adalah :

Rabu, 18 Agustus 2010

Rhabdomiosarkoma


Rhabdomiosarkoma adalah tumor ganas jaringan lunak.
Dasar diagnosa
Pemeriksaan fisik:
          Gejala umumnya tidak jelas, tergantung dari lokasi tumor. Biasanya adanya massa yang mungkin nyeri pada perabaan, berkembang cepat. Dapat timbul pada daerah leher dan kepala, ekstremitas dan sistim genitourinaria, dapat juga timbul pada orbita, intra toraks, dan retroperitoneum. Sebagian besar Rabdomiosarkoma pada anak berasal dari jaringan embrional .
Pemeriksaan lain :
Tumor dapat dilihat dengan pemeriksaan USG, Scanning, Rontgent, Tergantung dari letak tumor.


Patologi anatomi:
          Ada 4 tipe tumor secara PA. :
1.    Type embrional.
Sel-sel tumor kecil dan berbentuk kumparan.  Beberapa memiliki sitoplasma asidofilik.
2.    Type botrioid.
Sel-sel tumor berbentuk polipoid dan adanya zona tebal dari sel-sel tumor yang tidak berdiferensiasi.
3.    Type alveolar.
4.    Type pleomorfik.
Stdium penyakit:
Stadium I.: penyakit terlokalisir, dan bisa direseksi lengkap.
Substadium IA :      tumor tebatas pada otot atau organ asal.
Substadium IB :      infiltrasi ke luar struktur tanpa melibatkan kelenjar linfe regional.
Stadium II : dapat direseksi menyeluruh.
Substadium IIA :     tumor yang dapat direseksi menyeluruh dengan residual mikroskopik.
Substadium IIB :     tumor regional yang direseksi lengkap dengan keterlibatab kelenjar limfe regional.
Substadium IIC :     tumor regional dan kelenjar limfe yang terlibat direseksi menyeluruh.
Stadium III :           Tumor tidak bisa direseksi lengkap, atau hanya bisa biopsi.
Stadium IV : Tumor metastase jauh pada saat diagnosa.

 

 

 

Pengobatan

1.    Operasi untuk mengangkat tumor.
2.    Radisi dengan dosis 3.000 - 4.000 rad untuk regresi tumor, 5.000-6.000 rad untuk destruksi tumor.
3.    Kemoterapi dengan memakai Daktinomisin, siklofosfamid, vinkristin,doksorubisin ( Adriamisin ). Secara tunggal atau kombinasi.

Terapi harus disesuaikan dengan lokasi dan stadium penyakit.
Stadium  I eksisi lokal dan kemoterapi.
Stadium II dan III pembedahan lengkap, diikuti penyinaran lokal dan kemoterapi sistemik.      
Stadium IV. Pengobatan hanya dengan kemoterapi, sedangkan pembedahan dan radiasi ditujukan hanya untuk penatalaksanaan komplikasi.

PROTOKOL PENGOBATAN RHABDOMYOSARCOMA ( UICC, 1981 p 185 ).
VCR
I


I


I


I


I
ACD
IIIII





IIIII





IIIII
CPA
IIIII





IIIII





IIIII
ADR



I





I



ming.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
VAC : VCR    1,5 mg/m2 day 1.
          ACD   15 ug/kg/days 1-5.
          CPA    300 mg/m2 days 1-5.
Curse alternated every 3 weeks with :
VAD : VCR    1,5 mg/m2 day 1.
          ADR   60 mg/m2 day 1
                   ( max. cum dose 300-500 mg/m2 )


Sumber: Standar Penatalaksanaan Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSMH Palembang

Tumor Wilm


Dasar Diagnosa
Anamnesa :
          Adanya benjolan di perut di sebelah lateral. Kadang disertai keluhan nyeri perut, BAK merah, penurunan berat badan, tidak nafsu makan, mual, muntah, lesu, pucat dan demam.
Pemeriksaan:
          Teraba massa tumor pada retroperitoneal, ukuran bervariasi, licin dan padat dengan batas tegas dan jarang melewati garis tengah. Jika terjadi metastase ke hati, hati dapat membesar dan noduler. Lebih dari 50% disertyai hipertensi.
Laboratorium:
·         LED meningkat.
·         Pada urinalisa dapat ditemukan gross hematuria ataupun mikroskopis hematuria.
·         Pada darah tepi dapat ditemukan Anemia atau Polisitemia.
·         Terjadi peningkatan pada alfa feto protein.
Radiologis :
·         Pemeriksaan USG harus segera dilakukan.
·         Pada foto polos abdomen terdapat pembesaran ginjal
·         Pada IVP : gambaran khas berupa distorsi dari pelvis renalis dan kaliks pada daerah yang terkena.

Stadium tumor
Pembagian menurut National Wilm’s Tumor Study ( NWTS ) :
·         Stadium I : Tumor masih terbatas di dalam capsul ginjal. Tanpapembesaran kelenjar limfa disekitarnya.
·         Stadium II : Tumor melewati kapsul ginjal tetapi masih dapat diangkat seluruhnya. Penetrasi ke luar jaringan lemak perirenal, pembesaran kelenjar limfe peri renal, pembuluh darah ginjal berisi tumor, tepi sayatan bebas tumor.
·         Stadium III : Setelah operasi masih terdapat sisa tumor, tanpa metatasis melalui pembuluh darah, implantasi ke peritoneum, pembesaran kelenjar limfe di luar rangkaian kelenjar limfe peri aorta, terdapat sisa tumor yang tidak terangkat karena infiltrasi ke alat-alat vital.
·         Stadium IV  : Metastase jauh misalnya ke tulang, paru-paru dan lain-lain.
·         Stadium V   : Tumor bilateral



Pengobatan
          Prinsip pengobatan Tumor Wilm adalah kombinasi dari pembedahan, kemoterapi, dan radioterapi.
1.    Pembedahan.
     Dalam 24-48 jam setelah masuk rumah sakit diagnosa harus sudah ditegakkan dan segera dilakukan operasi.
2.    Kemoterapi, tergantung stadium tumor.
a.   Stadium I :
          Tidak diberikan kemoterapi prabedah.
·         Aktinomisin D 15 ug/kgbb/hari selama 5 hari dimulai dalam 24 jam setelah nefrektomi.
·         Vinkristin 1,5/m2 diberikan pada hari ke 1,7,15,22, dan 29 paska bedah.
·         Radioterapi tidak diberikan untuk :
          1. Pasien kurang dari 2 tahun
          2. Pasien berumur lebih dari 2 tahun, bila secara mikroskopis tidak
   ditemukan perluasan sel tumor kedalam kapsul.
Selanjutnya vinkristin dan aktinomisin D agar diberikan setelah 9 minggu, 3 bulan, 6 bulan, 12 bulan dan 15 bulan paska bedah.
b.    Stadium II:
·         Tidak diberikan kemoterapi prabedah. Aktinomisin D dan vinkristin diberikan dengan dosis dan cara yang sama seperti pada stadium I.
·         Penyinaran paska bedah terhadap daerah tumor dimulai bila mungkin dalam waktu 7 hari setelah nefrektomi.
·         Pemberian kemoterapi selanjutnya seperti pada stadium I, tetapi waktu pemberian : 6 minggu, 3,6,9,12 dan 15 bulan paska bedah.
c.    Stadium III :
·         Tidak diberikan kemoterapi prabedah.
·         Aktinomisin D dan Vinkristin diberikan dengan dosis dan cara yang sama seperti stadium I.
·         Penyinaran terhadap seluruh abdomen.
·         Kemoterapi pemeliharaan terdiri dari vinkristin, aktinomisin D dan adreamisin. Ketiganya diberikan pada 6 minggu, 3,6, 9,12,15 bulan paska bedah. Dosis dan cara pemberian vinkristin dan aktinomisin D seperti biasa, sedangkan Adreamisan diberikan dengan dosis50 mg/m2 secara I.V. pada tiap hari I. Dosis pertama setelah penyinaran diturunkan menjadi 30 mg/m2.
d.    Stadium IV:
·         Metastase ke paru-paru pada saat diagnosis dengan tumor primer dapat diangkat : tidak diberikan kemoterapi prabedah.
·         Operasi pada hari I (nefrektomi), kemoterapi paska bedah seperti stadium II.
·         Radioterapi diberikan sebagai berikut :
-          Bila tumor pecah, penyinaran seluruh abdomen seperti pada stadium III, diberi 7 hari setelah nefrektomi.
-          Bila tumor tidak pecah, maka penyinaran seperti pada stadium II.
-          Bila hanya terdapat metastase ke paru-paru, penyinaran terhadap lapangan paru ditunda sampai penilaian respon kemoterapi yang pertama dilakukan.
-          Bila metastase tidak menghilang diberikan penyinaran terhadap lapangan paru dengan dosis 2000 rad, untuk setiap lapangan paru dengan dosis ekstra 1000 rad untuk setiap metastase, sisa tumor diobati dengan operasi.
·         Penyebaran hematogen: misalnya ke hati, tulang, dsb, pada saat diagnosis, tidak diberikan kemoterapi prabedah, operasi dengan pengangkatan tumor primer.
·         Kemoterapi paskabedah: Vinkristin, aktinomisin D, dan Adreamisin 50 mg/m2.
·         Penyinaran paska bedah terhadap daerah tumor dan abdomen,
·         Kemoterapi pemeliharaan seperti pada stadium III.
·         Bila perlu dilakukan lobektomi hati untuk sisa metastase.
e.    Stadium V:
     Sebaiknya pengobatan diberikan berdasarkan penilaian secara seksama pasien demi pasien ( individuil ).

PRTOKOL TUMOR WILMS.
            N.
ACD
IIIII








IIIII



VCR
I
I
I
I
I




I   I



Mingg
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
                                                                                      *
Keterangan :           N. Nefrektomi.
                   ACD : 15 ug/kgbb/hari IV selama 5 hari.
                   Dimulai dalam 24 jam pasca N.
                   VCR : 1,5 mg/m2/kali.
Kombinasi ACD, dan VCR (*) diberikan pada  : 9 minggu,     3 bulan,  6 bulan pasca N., 12 bulan, 15 bulan


Sumber: Standar Penatalaksanaan Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSMH Palembang